Wednesday, 8 October 2014

Wirausaha

Sedari kecil saya akrab dengan istilah "wirausaha", karena sejak sekolah dasar ketika disuruh mengisi form biodata yang menyangkut profesi orang tua pasti saya mengisinya dengan wirausaha. Secara polos yang saya tahu sih ayah saya dagang sembako hehe.
Hingga akhirnya beranjak remaja saya mencoba memahami apa itu wirausaha. Oh ternyata wirausaha sederhananya adalah buka usaha sendiri. Tanpa banyak teori, ayah mengajari saya berwirausaha. Ia mengajari saya melihat peluang, melihat pergerakan pasar, melayani pelanggan dan membuat hubungan yang baik dengan sekitar, karena kami berbisnis sembako maka untuk urusan pricing tak bisa dikutak katik terlalu banyak.
Bisnis ayah dahulu kala sebenarnya sudah punya sistem tapi ternyata kami diberikan ujian bencana kebakaran toko yang berakibat lumpuhnya bisnis kami. Tapi yang namanya bangkit akan selalu ada jalan jika diusahakan dengan sungguh-sungguh. Ayah membangunnya kembali pelan-pelan dan kami hijrah ke lokasi lain dengan bekal pengalaman bangkrut yang cukup pahit.
Dikala itu saya masih jadi pelajar SMP tapi sering menemani ayah berdagang ditokonya. Pelanggan kami adalah orang-orang komplek yang membuat saya akhirnya dikenal sebagai anak seorang juragan sembako.
(Tulisan ini masih akan berlanjut) hehe

Sunday, 27 July 2014

Papan tulis ide

Banyak orang bilang, jika ide datang segeralah tuangkan walaupun masih kasar. Setuju dengan pendapat tersebut saya membiasakan diri menuliskannya di secarik kertas agar sang ide tak hilang begitu saja. Ini menarik karena jika esok hari kita membacanya akan seperti merangkai sebuah puzzle.
Hal itu yang menyebabkan saya menggunakan papan tulis dalam kamar saya. Papan tulis itu sering terlihat ketika beraktivitas dalam kamar sehingga ada efek yang baik bagi alam bawah sadar saya.
Terkadang teman-teman pun bertanya, itu apa sih di papan? Oo itu sekedar menuang ide "jawab saya". Kebanyakan teman berkomentar kenapa saya tidak menggunakan gadget saja dan saya masih beranggapan bagaimanapun tulisan tangan kita lebih asik melekat ketimbang pakai keyboard.hehehe
-selamat menuangkan ide-

Wednesday, 16 July 2014

Investasi dengan rasional

Saat ini, dimana orang-orang seusia saya sedang tergiur dengan apa yang disebut investasi properti. Dengan asupan bekal dari para marketer properti mereka mencari pembenaran. Pemikirannya adalah "harga properti akan selalu naik". Pemikirian banyak orang akan hal ini justru yang akan mempercepat kejatuhan properti tersebut. Tindakan irasional yang sangat berbahaya dimana orang berani membayar lebih tinggi untuk sesuatu yang tidak dibarengi fundamental yang kuat.

Sudah terjadi kasus longsornya harga properti di Amerika tahun 2008, informasinya bertebaran di internet.Tindakan irasional manusia dibarengi dengan rasa serakah berbuah pahit. Untung besar bagi yang mau belajar dan rugi besar bagi mereka yang tak sabar. Anda ingin berada di posisi mana? semua keputusan di tangan anda.

Banyak orang sesumbar dan mendewakan properti yang takkan pernah turun harganya. Sekedar ingin mengingatkan Hyman Minsky yang notabene adalah seorang ekonom, pernah mengemukakan teori "financial instability". Ini saya kutip dari buku panutan saya dalam berinvestasi saham yaitu Parahita Irawan dalam buku "Street Investing". Teori "financial instability" tersebut mengemukakan proses terjadinya buble kedalam lima tahapan:


  1. Displacement, setiap bubble memiliki pemicu, Misalnya adalah penemuan teknologi baru ataupun perubahan kebijakan ekonomi. Pemicu tersebut menyebabkan perubahan di salah satu sektor ekonomi. Pada tahap ini, belum banyak orang yang menyadari perubahan tersebut dan harga perlahan-lahan mulai naik.
  2. Boom, orang-orang mulai menyadari perubahan yang terjadi. Semakin banyak orang yang berpartisipasi sehingga harga naik semakin tinggi. Pada awalnya kenaikan harga masih rasional karena dibarengi dengan kondisi fundamental yang bagus. Fenomena yang terjadi mulai mendapatkan sorotan media. Orang-orang mulai takut ketinggalan kereta sehingga jumlah partisipan semakin banyak. Suku bunga semakin turun sehingga menjadi katalisator.
  3. Euforia, Pada fase ini nilai aset membumbung terlalu tinggi. Cerita-cerita orang kaya mendadak dari fenomena ini akan tersebar. Teori "greater fool" mulai menjadi kenyataan. Harga aset sudah terlalu tinggi dan tidak mencermikan kondisi fundamental semestinya. Para partisipan hanya bisa mendapatkan keuntungan apabila ada pihak lain yang mau membeli lebih mahal. Di tahap ini para analis akan mencari metode valuasi yang bisa menjustifikasi harga yang tinggi tersebut.
  4. Profit taking oleh insider, ketika harga semakin tidak masuk akal, orang-orang yang sudah lama berkecimpung di bisnis tersebut sejak lama dan masih berpikiran jernih mulai melihat adanya alarm bahaya dan menarik investasinya. Jalannya proses bubble mulai tersandung-sandung namun masih dianggap sebagai kerikil-kerikil kecil saja. Pada titik ini bubble sebenarnya sudah mulai pecah karena tidak ada dukungan dari "old player", maka bubble tidak akan bisa berkembang lebih besar lagi.
  5. Panic, pada tahapan ini harga aset mulai terjun bebas dan menyapu bersih para partisipan didalamnya. Contoh ekstrim yang pernah terjadi adalah ketika demam tulip yang terlampau irasional, diakhiri hanya dalam satu malam.
Disini minsky mencoba membangunkan kita dari tidur, Berbahayanya kelonggaran kredit, overtrade dan euforia hampir selalu berakhir dengan kehancuran. 

Lalu apa yang harus kita perbuat? dengan membaca teori tersebut kita hanya perlu bersikap rasional. Akan lain ceritanya ketika kita sangat membutuhkan rumah untuk tempat tinggal dan membeli adalah jalan yang terbaik. Jika kasusnya itu ya beli saja, namun perhitungkan tingkat rasionalnya juga. 

Note: Terima Kasih Pak Parahita yang sudah mengingatkan materi ini dalam bukunya.


Tuesday, 15 July 2014

Alarm

Mungkin aku berisik bagi sekitarku
Tapi bagi yang terusik janganlah kau lalu
Karena aku akan selalu begitu
Hidupku bukan hanya untukku
Jika kau marah pergilah sementara
Tak lama lagi singgahlah tak apa
Tak mungkin selamanya kita berlawanan
Untuk sesuatu yang abadi kita harus selalu berkawan

Sunday, 6 July 2014

Mie instan

Hai kawan yg seperti mie instan
Seketika kau mendadak bola
esok hari kau mendadak politis
Dan lusa kau mendadak religi
Terasa enak tapi tak sehat
Terasa lezat dengan banyak zat
Instanmu membuat kagum
Kagum atas proses cepat mu
-rockuntan-

Sunday, 15 June 2014

Pesta Rakyat

Menurut saya, pemilu pada dasarnya adalah pesta rakyat. Momen dimana setiap warga negara yang sudah memenuhi syarat berhak untuk menentukan pilihan. Saat ini banyak pilihan parpol yang bisa dipilih sesuai hati untuk berpartisipasi dalam pemilu. Namun kenyataannya pergeseran makna seiring perkembangan politik mengakibatkan makna dari "pesta" sudah tidak relevan.

Gimana mau disebut "pesta", masing-masing pendukung saja mencaci maki satu sama lainnya. Mereka bukan hanya berpromosi pilihannya, tapi malah menjatuhkan pihak-pihak lainnya. Sehatkah? orang awam bilang ya politik itu akan melakukan segala cara untuk berkuasa. Ah entahlah, menurut saya pribadi ya jangan seperti itulah, bermasyarakat itu harus saling menghargai.

Saya pribadi agak mengurangi intensitas melantai di twitter dengan alasan jenuh politik. Beberapa tokoh yang saya follow banyak yang bertentangan dengan saya dalam urusan perpolitikan ini. Saya menghargai pendapat mereka tapi kalau dibaca terus menerus kadang emosi suka terpancing jadi lebih baik saya istirahat sejenak. Semoga "pesta" ini cepat selesai dengan hasil yang baik bagi banyak orang. 


-rockuntan-

Tuesday, 3 June 2014

Kenapa saham?

Saham, pengertian sederhananya adalah surat berharga yang merupakan bukti kepemilikan dalam sebuah usaha. Jika kita makan pizza yang terbelah-belah, seperti itulah pecahan saham. Bedanya pizza biasa dipotong rata, saham biasanya porsi kepemilikannya berbeda-beda.
Kenapa saya suka berinvestasi saham?
Alasannya simple, saham itu jelas bisa dipantau langsung ke bisnis dari si emiten. Berbeda dengan reksadana yang merupakan hasil gabungan dari beberapa saham. Sayangnya di Indonesia investasi saham hanya populer dikalangan tertentu saja. Orang-orang tua berduit dan bos-bos biasanya yang gemar berinvestasi saham.
Minimnya sosialisasi mungkin salah satu faktor yang membuat investasi saham kurang terjamah oleh kalangan muda. Padahal keputusan OJK memperkecil jumlah lot yang awalnya 1 lot = 500 lembar sekarang hanya 100 lembar sangat menggiurkan bagi kita yang ingin berinvestasi dengan dana minim.
Kenyataannya sekarang IHSG banyak dihuni dana-dana asing melebihi lokal. Mereka menganggap IHSG itu seksi. Yuk mari berinvestasi saham, namun pelajari dulu seluk beluknya sebelum teman-teman berinvestasi saham.
Selamat berinvestasi!