Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Wednesday, 24 June 2015

Sebatang Lisong - WS Rendra


Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………………

Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.

Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
………………

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

19 Agustus 1977
ITB Bandung
Potret Pembangunan dalam Puisi


Hehe kalo baca lalu nonton sajak ini di youtube , gemetar rasanya. Karya Om Rendra memang selalu luar biasa.


Saturday, 2 May 2015

Bapak Pendidikan kita, bukan hanya cerdas tapi juga cadas






Pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari sosok Ki Hajar Dewantara, dialah yang diberi gelar sebagai bapak pendidikan. Ialah pendiri Perguruan Perguruan Nasional Taman Siswa. Sebuah wadah pendidikan bagi rakyat yang ia dirikan setelah ia diasingkan oleh Belanda. Ia ditangkap dan diasingkan oleh Belanda karena artikelnya yang pedas kala itu. Berikut kutipan artikelnya:


"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya".


Saat itu ia mengkritisi permintaan dana sumbangan dari warga untuk pesta kemerdekaan Belanda atas Perancis 1913. Pemerintah Belanda meyakini bahwa ialah yang membuat artikel tersebut.Akibat kritikan pedasnya itu akhirnya ia ditangkap dan diasingkan.


Ada yang unik sekembalinya setelah pengasingan tersebut. Ketika ia genap berusia 40 tahun ia mengganti nama yang tadinya Soewardi menjadi Ki Hadjar Dewantara dan ia tidak menggunakan gelar keabngsawanannya lagi. Tujuan melepas kebangsawanan adalah agar lebih dekat dengan rakyat tanpa pembatas.


Semboyan yang sangat fenomenal hingga kini masih melekat di dunia pendidikan adalah


ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan)


Sungguh cadas sekali ya Bapak Pendidikan kita, sudah seharusnya kita meneruskan cita-citanya dengan berkontribusi dalam dunia pendidikan sesuai kemampuan yang kita miliki masing-masing.



Selamat Hari Pendidikan 2 Mei 2015


Salam

Rockuntan

Friday, 1 May 2015

Palang Pintu sebuah tradisi unik ala betawi

                                                sumber foto: ady-conan.blogspot.com

Dalam tradisi adat pernikahan ala betawi ada sebuah tradisi unik yang disebut dengan istilah "palang pintu". Dimana para jawara seolah berkelahi ketika sang mempelai pria memasuki area wanita. Sebelum mereka berkelahi biasanya ada perdebatan khas logat betawi yang kental dan dibumbui dengan saling lempar pantun.

Palang Pintu, terdiri dari dua kata yaitu palang dan pintu. Palang adalah sebuah penghalang, pintu adalah jalur masuk yang sah, kenapa sah, karena kalau lewat jendela ya maling donk :D. Lalu kenapa orang mau nikah harus ada ribut-ribut dari para jawara? untuk menunjukkan keseriusan si cowok untuk melanjutkan jenjang pernikahan, maka pihak cowok harus bisa menaklukan jawara yang mewakili cewek, hohoo ada ada saja yah, yah namanya juga kultur.

Di masa sekarang, walaupun resepsi pernikahan sudah banyak dilaksanakan di aula, gedung atau tempat selain rumah, tetapi tetap saja pertunjukan palang pintu ini masih sering dijumpai. Kultur unik ini selalu menarik perhatian para tamu karena ada unsur pantut jenaka didalamnya yang membuat tawa terbahak-bahak

Nah, bagi kalian yang berasal dari suku betawi, tak ada salahnya saat pernikahan mempertimbangkan adanya palang pintu ini. Selain menghibur, akan berarti juga untuk menjaga kelestarian adat Indonesia khususnya betawi.


-rockuntan-